Saturday, December 17, 2011
Teleworking vs Refoms
Seyogyanya pegawai swasta+PNS yg bisa bekerja dg broadband access dari rumah diberi rewards karena membantu mengurangi kemacetan. Bukannya di punish dan digalakkan pakai finger print access yg justru pengadaannya miliaran rp per kantor. What da ya think?
Segan atau menjauhi...?
Minggu lalu aku Jumatan di suatu tempat. Ada seorang mantan Menteri, tempat di sampingnya kosong atau dikosongkan saya tidak tahu. Kenapa yah di tempat ibadahpun orang masih memperlakukan seorang berbeda dengan yang lain. Aku duduk saja di sampingnya. pertanyaanku dalam hati. Orang pada segan/takut atau menjauhi? Au ah...?
New Tech and Innovation versus Old Tool.
New Tech and innovation still needs old tools, anyway. A proof of poor design screws up our life!
Thursday, December 15, 2011
Sawang Sinawang!
Terkaget kaget diberi tahu tadi jam 7malam kalau ada MRT broken. Akibatnya perjalanan ke Changi terganggu. Untung tidak jadi naik kereta. Sampai di imigrasi diskusi sama petugas. Dijawabnya "Lagi? Semakin buruk !" Ternyata kita tidak perlu terlalu takjub sama tetangga, dan selalu ikut latah mencaci negeri sendiri. Semoga berarti.
Sunday, October 16, 2011
Walks the talk...! [its much more important]
Inilah komentar saya disalah satu wall seorang teman Dosen ITB yang baik atas link yang dikirimkannya.
" Maaf renny. Isi tulisan sy setuju 200%. Tapi ngapain pak SSB belasan thn jadi dirjen di dikti? Bukankah itu salah satu jalan pintas yg ia sebutkan, sekarang stlh tidak menjabat dia mungkin baru sadar, betapa ia bisa saja telah bekerja -mungkin- tidak dgn hati. Saya lebih dan sangat salut kpd orang atau pure dosen dan peneliti spt kawanku ini. Dari pada, maaf, belasan dosen profesor doktor itb rame2 masuk birokrasi cari jalan pintas. Beribu maaf, yg penting itu walks the talk. Sudahlah negeri sudah carut marut, tidak perlu berkoar. Lebih baik berbuat dan bekerja dg hati tadi. Maaf pak SSB, for this one I would never agree with hundreds of lecturer that sacrifice their own students, campus, and the field they have chosen themselves. Kalau perlu munculkan suara forum rektor, agar akademisi tdk hrs malu menolak tawaran jd wamen dan mengotori kaki dan hati mereka masuk birokrasi yang sangat jauh berbeda kebatinannya dan "kehatian"nya dg kampus. AmI too strong? I've to, to safe my almamater from humiliating result!"
Adapun link nya berisikan kutipan artikel yang ditulis mantan Dirjen Dikti yang juga dosen ITB. Ringkasan kutipannya sbb:
"KUTIPAN : Tentu dibutuhkan suatu daya tahan mental yang luar biasa untuk dapat menekuni suatu pekerjaan secara terus-menerus selama puluhan tahun, praktis selama hayat dikandung badan. Hal ini hanya mungkin apabila seseorang bekerja dengan hati sehingga dia mencintai pekerjaannya. Berbagai kendala akan dapat diatasi kalau kita bekerja dengan hati, bahkan kendala ekonomi sekalipun. Memang tampaknya perlu ada suatu pergeseran paradigma dari paradigma lama bahwa seseorang melakukan pekerjaan ke paradigma baru bahwa seseorang bekerja. Dengan bekerja, terjadi integrasi antara pelaku dan kegiatannya sehingga dapat diharapkan terjadinya bekerja dengan hati di mana bekerja tidak mengenal batasan waktu dan tempat. Mereka bekerja sepanjang waktu secara konsisten di bidangnya, karena untuk menemu-kenali suatu fenomena ilmiah memerlukan suatu kerja keras dalam waktu sangat lama. Demikian juga untuk memperoleh suatu inovasi memerlukan upaya yang sangat intensif dalam waktu yang panjang."
Sebalik... Bekerja dengan Hati cetak.kompas.com Satryo Soemantri Brodjonegoro ---
" Maaf renny. Isi tulisan sy setuju 200%. Tapi ngapain pak SSB belasan thn jadi dirjen di dikti? Bukankah itu salah satu jalan pintas yg ia sebutkan, sekarang stlh tidak menjabat dia mungkin baru sadar, betapa ia bisa saja telah bekerja -mungkin- tidak dgn hati. Saya lebih dan sangat salut kpd orang atau pure dosen dan peneliti spt kawanku ini. Dari pada, maaf, belasan dosen profesor doktor itb rame2 masuk birokrasi cari jalan pintas. Beribu maaf, yg penting itu walks the talk. Sudahlah negeri sudah carut marut, tidak perlu berkoar. Lebih baik berbuat dan bekerja dg hati tadi. Maaf pak SSB, for this one I would never agree with hundreds of lecturer that sacrifice their own students, campus, and the field they have chosen themselves. Kalau perlu munculkan suara forum rektor, agar akademisi tdk hrs malu menolak tawaran jd wamen dan mengotori kaki dan hati mereka masuk birokrasi yang sangat jauh berbeda kebatinannya dan "kehatian"nya dg kampus. AmI too strong? I've to, to safe my almamater from humiliating result!"
Adapun link nya berisikan kutipan artikel yang ditulis mantan Dirjen Dikti yang juga dosen ITB. Ringkasan kutipannya sbb:
"KUTIPAN : Tentu dibutuhkan suatu daya tahan mental yang luar biasa untuk dapat menekuni suatu pekerjaan secara terus-menerus selama puluhan tahun, praktis selama hayat dikandung badan. Hal ini hanya mungkin apabila seseorang bekerja dengan hati sehingga dia mencintai pekerjaannya. Berbagai kendala akan dapat diatasi kalau kita bekerja dengan hati, bahkan kendala ekonomi sekalipun. Memang tampaknya perlu ada suatu pergeseran paradigma dari paradigma lama bahwa seseorang melakukan pekerjaan ke paradigma baru bahwa seseorang bekerja. Dengan bekerja, terjadi integrasi antara pelaku dan kegiatannya sehingga dapat diharapkan terjadinya bekerja dengan hati di mana bekerja tidak mengenal batasan waktu dan tempat. Mereka bekerja sepanjang waktu secara konsisten di bidangnya, karena untuk menemu-kenali suatu fenomena ilmiah memerlukan suatu kerja keras dalam waktu sangat lama. Demikian juga untuk memperoleh suatu inovasi memerlukan upaya yang sangat intensif dalam waktu yang panjang."
Sebalik... Bekerja dengan Hati cetak.kompas.com Satryo Soemantri Brodjonegoro ---
Thursday, September 01, 2011
How many more Sir?
"It was fascinating to be there..." begitulah komentar sang reporter. Tanpa rasa bersalah akan hancurnya sebuah rezim dan runtuhnya pemimpin Islam yang berani menyatakan "No" kepada pemimpin negara barat. Yang pasti Kolonel ini sudah "diincar" dari dulu. Terlepas kontroversi ttg Kadhaffi, entah berapa lagi negara Arab akan hancur oleh perang saudara atas nama demokrasi. So, we got to be careful folks!! especially you "damned smart idiot leaders!"
Want to see the video, pls click it here!
Want to see the video, pls click it here!
Subscribe to:
Posts (Atom)
